Rupiah Melemah, Pasar Menanti Akhir Shutdown AS dan Langkah The Fed
Mata uang rupiah dan dolar AS. Diketahui rupiah hari ini Kamis 13 November 2025 terkoreksi. (Antara/Fakhri Hermansyah)
Jakarta, Beritasatu.com – Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Kamis (13/11/2025). Hingga pukul 09.50 WIB, rupiah di pasar spot exchange terkoreksi 16 poin atau 0,10% ke posisi Rp 16.733 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.717 per dolar AS.
Know More
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pelemahan rupiah terjadi seiring meningkatnya optimisme mengenai potensi berakhirnya penutupan pemerintah Amerika Serikat (AS). Menurutnya, ekspektasi tersebut mendorong investor kembali memilih aset berdenominasi dolar.
BACA JUGA
Redenominasi Rupiah Tak Akan Buat Indonesia seperti Zimbabwe
“Potensi resolusi penutupan Pemerintah AS membuat investor kembali beralih ke dolar AS,” ujar Josua pada Kamis (13/11/2025).
ADVERTISEMENT
Gedung Putih menyatakan optimismenya pada Rabu (12/11/2025) bahwa penutupan pemerintah akan segera berakhir. Anggota parlemen disebut telah siap mengirimkan kesepakatan pendanaan tersebut ke meja Presiden Donald Trump.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Trump kemungkinan akan menandatangani rancangan undang-undang (RUU) pendanaan itu menjadi undang-undang di hadapan wartawan.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS diperkirakan melakukan pemungutan suara pada pukul 19.00 waktu setempat (23.00 GMT), setelah Senat menyetujui kesepakatan tersebut dengan komposisi suara 60-40.
RUU itu akan mendanai pemerintah pada tingkat yang sama hingga 30 Januari, serta memuat tiga paket anggaran tahunan yang mencakup lembaga dan program penting.
RUU tersebut juga memberikan mandat untuk mempekerjakan kembali pegawai federal yang sebelumnya diberhentikan selama penutupan pemerintah.
Josua menambahkan, pelaku pasar juga menunggu pernyataan beberapa pejabat The Federal Reserve, termasuk John Williams.
“Pernyataan mereka diharapkan dapat memberikan kejelasan arah kebijakan The Fed menjelang pertemuan FOMC Desember 2025,” ucap dia.
Ketidakpastian ekonomi AS masih meningkat setelah Gedung Putih mengumumkan bahwa publikasi data penting, seperti indeks harga konsumen (IHK) dan tingkat pengangguran Oktober 2025, berpotensi tertunda akibat penutupan pemerintah.
BACA JUGA
Rupiah Hari Ini 12 November Melemah Tembus Rp 16.724
Hingga kini, Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) belum menyampaikan klarifikasi terkait hal tersebut, sehingga semakin menambah kegelisahan pasar.
“Tidak adanya data ekonomi utama dapat mempersulit pengambilan keputusan The Fed pada pertemuan FOMC Desember 2025,” tutur Josua.
