IHSG Terancam Uji Support 6.600, Investor Diminta Waspada

Read Time:1 Minute, 49 Second
Ilustrasi IHSG.

Ilustrasi IHSG. (Antara/Dhemas Reviyanto)

Jakarta, Beritasatu.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus tertekan sepanjang 2026. Hingga akhir April, IHSG ditutup di level 6.956,8 atau melemah 2,52% secara mingguan dan anjlok 19,55% sejak awal tahun (year to date/ytd).

Pelemahan ini terjadi di tengah derasnya arus dana asing keluar (outflow) sebesar Rp5,8 triliun di pasar reguler dalam sepekan terakhir. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menilai penurunan tersebut bukan sekadar koreksi teknikal biasa.

“Penurunan ini bukan sekadar koreksi teknikal biasa, ini adalah tekanan sistemik yang berlangsung konsisten. Bulan April 2026 ditutup dengan penurunan -1,30%,” ujar David dalam risetnya, Senin (4/5/2026).

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, tekanan terhadap IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang kuat.

Dari sisi global, ketidakpastian kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi faktor utama. Sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) memicu aksi jual aset di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, eskalasi geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz, turut meningkatkan volatilitas harga energi global dan memicu kekhawatiran inflasi yang berkepanjangan. Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memperparah tekanan. Sepanjang 2026, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) mencapai Rp 45,38 triliun di pasar reguler.

BACA JUGA

IHSG Hari Ini Anjlok 2,03 Persen Tinggalkan Level 7.000

Memasuki pekan 4–8 Mei 2026, pasar diperkirakan masih bergerak dalam kondisi risk-off moderat akibat tekanan eksternal.

“Kondisi Selat Hormuz secara fundamental memberikan tekanan besar berupa kenaikan biaya produksi bagi negara-negara net importir energi, yang pada gilirannya dapat memicu risiko inflasi serta menggerus daya beli masyarakat secara luas,” kata David.

Ia menilai sektor konsumsi dan transportasi berpotensi tertekan akibat lonjakan harga energi. Sebaliknya, sektor komoditas seperti nikel dan crude palm oil (CPO) dinilai lebih tahan terhadap tekanan pasar.

Secara teknikal, IHSG saat ini berada dalam fase downtrend jangka menengah dengan potensi menguji level support di kisaran 6.918 hingga 6.696.Investor pun disarankan untuk lebih defensif dengan fokus pada saham berbasis komoditas yang memiliki fundamental lebih kuat di tengah ketidakpastian global.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Analisis Emas Labil, Pasar Harga Ulang The Fed - Data Pasar 2026-04-30 Previous post Emas Labil, Pasar Harga Ulang The Fed