Benang Kusut Kenaikan Harga LNG dari Geopolitik hingga Faktor Alami

Ilustrasi LNG. (Istimewa)
Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov mendorong pemerintah mencari jalan tengah yang mampu menjaga daya saing industri sekaligus memastikan keberlanjutan rantai pasok gas di tengah kenaikan harga yang dirasakan sebagian pelanggan industri.
Abra menyampaikan kenaikan harga LNG perlu dilihat secara objektif karena tidak terlepas dari dinamika pasar energi global dan kondisi pasokan gas domestik yang terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
“Kenaikan harga LNG di tingkat konsumen industri tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada tekanan besar dari pasar energi global akibat krisis geopolitik sehingga biaya perolehan LNG di sisi hulu juga meningkat,” ungkap dia dilansir dari Antara.
“Karena itu, isu ini perlu dilihat secara utuh dari hulu sampai hilir, bukan hanya dari sisi harga akhir yang diterima industri,” tambah dia.
Menurut dia, pasokan gas pipa untuk kebutuhan industri terus menurun. Pada 2024, pasokan gas pipa tercatat sekitar 479 BBTUD, kemudian turun 16% menjadi sekitar 400 BBTUD pada 2025. Penurunan berlanjut pada 2026 menjadi sekitar 327 BBTUD atau turun sekitar 18%.
Selain dipengaruhi penurunan alamiah produksi gas, kondisi tersebut juga berkaitan dengan kebijakan prioritas alokasi gas yang menempatkan sektor industri di bawah kebutuhan kelistrikan.
Akibatnya, kesenjangan antara pasokan gas pipa dan kebutuhan industri semakin melebar sehingga LNG menjadi salah satu alternatif untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi.
Ia menjelaskan LNG memiliki rantai pasok yang lebih panjang dibandingkan gas pipa konvensional. LNG harus melalui proses produksi, pencairan, pengapalan, penyimpanan dan regasifikasi, transmisi, hingga distribusi. Sementara gas pipa umumnya hanya melalui tahapan produksi, transmisi, dan distribusi.
