Harga Minyak Naik 2 Persen Dipicu Ketegangan Selat Hormuz dan Blokade AS

Read Time:1 Minute, 43 Second
Ilustrasi minyak mentah

Ilustrasi minyak mentah (ChatGPT)

Jakarta, Beritasatu.com – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan baru berupa biaya pelayaran di Selat Hormuz dan pemberlakuan kembali blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah global.

Melansir CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak Agustus naik 2,27% menjadi US$ 79,91 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent kontrak September menguat 2,14% ke level US$ 85,11 per barel, melanjutkan reli setelah melonjak 9,6% pada sesi perdagangan sebelumnya.

Powered by

GliaStudios

Trump pada Senin (13/7/2026) menyatakan AS akan mengenakan biaya sebesar 20% terhadap seluruh kargo yang melintasi Selat Hormuz. Ia juga menyebut AS sebagai penjaga jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Pada unggahan di Truth Social, Trump juga mengumumkan pemberlakuan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran yang berada di sekitar Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) kemudian menyatakan kebijakan tersebut mulai berlaku pada Selasa pukul 16.00 waktu setempat.

ADVERTISEMENT

Kebijakan terbaru Washington itu dinilai meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Analis Citi menilai rencana penerapan biaya pelayaran di Selat Hormuz dapat memperbesar ketidakpastian geopolitik sekaligus memperpanjang tekanan terhadap pasar energi.

“Kemungkinan rezim Iran menarik diri dari MoU hingga setelah pemilihan paruh waktu AS juga meningkat, sebuah skenario yang kemungkinan besar akan menyebabkan harga minyak lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama,” tulis Citi dalam laporan yang dirilis Selasa.

BACA JUGA

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar seperlima pasokan minyak global dikirim melalui selat tersebut. Aktivitas pelayaran sempat menurun setelah Iran menargetkan kapal-kapal yang melintas pada awal Maret, meski kemudian mulai pulih menyusul kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran.

Namun, kebijakan terbaru pemerintah AS kembali meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. Risiko distribusi energi terganggu dari kawasan Teluk diperkirakan akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Pertumbuhan Laba BUMN Jadi Energi Baru Pembangunan Nasional