Investor Tunggu Sanksi AS ke Iran, Pasar Asia Bergerak Mendatar

Read Time:1 Minute, 53 Second
Ilustrasi bursa Asia

Ilustrasi bursa Asia (AP Photo)

Sydney, Beritasatu.com – Pasar saham Asia cenderung datar pada Senin (24/8/2026), sementara harga minyak melemah karena investor menunggu perincian sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang akan diumumkan pada hari yang sama.

Pelaku pasar juga menanti laporan keuangan Nvidia yang akan dirilis pada Rabu (26/8/2026). Investor menilai produsen cip tersebut menghadapi ekspektasi yang sangat tinggi dari pasar.

Powered by

GliaStudios

Analis memperkirakan pendapatan kuartalan Nvidia hampir dua kali lipat menjadi sekitar US$ 92 miliar. Sementara itu, proyeksi pendapatan untuk setahun penuh berada pada kisaran US$ 103 miliar hingga US$ 105 miliar.

Pelaku pasar juga berharap mendapatkan kejelasan mengenai prospek suku bunga AS ketika Ketua Federal Reserve Kevin Warsh berbicara di Jackson Hole, Wyoming, pada Jumat (28/8/2026). Namun, kecenderungan Warsh yang dikenal enggan memberikan panduan kebijakan ke depan berpotensi membuat investor kecewa.

“Ada beberapa alasan untuk memperkirakan hasilnya tidak akan terlalu memuaskan,” kata Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman dilansir dari Reuters.

Dia mencatat, ketua The Fed sebelumnya tidak ingin mendahului keputusan bank sentral dalam forum tersebut. “Warsh kemungkinan besar akan berfokus pada beberapa aspek agenda ‘perubahan rezim’-nya,” kata Kasman.

Menurut dia, The Fed telah bergerak menuju pengurangan neraca dan komite juga memberikan perhatian terhadap neraca dalam risalah rapat Juli. Karena itu, isu tersebut kemungkinan menjadi topik yang paling banyak dibahas Warsh.

Pasar memperkirakan peluang sekitar 40% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan 16 September 2026. Sementara itu, pasar sepenuhnya memperhitungkan kenaikan suku bunga pada Desember.

BACA JUGA

Ekspektasi tersebut dapat berubah bergantung pada data inflasi AS yang akan dirilis pekan ini. Proyeksi median menunjukkan inflasi inti diperkirakan bertahan di level 3,3% pada Juli.

Warsh juga diperkirakan menghadapi pertanyaan mengenai pengumuman mengejutkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada pekan lalu terkait rencana setidaknya menggandakan pembelian kembali obligasi. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menahan kenaikan imbal hasil obligasi yang memperketat kondisi keuangan perekonomian.

Upaya tersebut sejauh ini belum memberikan hasil signifikan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun kembali naik menjadi 5,2760%, tidak jauh dari level tertinggi dalam 19 tahun sebesar 5,3371%.

Kenaikan imbal hasil membuat instrumen utang lebih menarik dibandingkan saham sekaligus meningkatkan tingkat diskonto terhadap proyeksi laba di masa depan. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya valuasi sejumlah aset.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Analisis Euro Melemah Tipis, Risalah Fed Masih Jadi Beban - Data Pasar 2026-08-20 Previous post Euro Melemah Tipis, Risalah Fed Masih Jadi Beban