Serangan Iran Bakal Ganggu Arus Emas Fisik dari Dubai

Harga emas global naik lebih dari 2 persen pada didorong oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). (AP)
Dubai, Beritasatu.com – Arus pengiriman emas fisik dari pusat perdagangan bullion di Dubai diperkirakan terganggu dalam beberapa hari ke depan setelah sejumlah maskapai membatalkan penerbangan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta aksi balasan dari Teheran.
Seperti diberitakan Reuters, tiga sumber industri logam mulia menyebut, pembatalan penerbangan tersebut berpotensi membatasi keluar masuk emas dari Dubai, yang selama ini menjadi salah satu hub perdagangan emas global.
Dubai merupakan pemasok utama emas ke sejumlah pusat perdagangan dunia seperti Swiss, Hong Kong, dan India yang juga dikenal sebagai konsumen besar emas. Logam mulia tersebut umumnya dikirim menggunakan pesawat karena pertimbangan keamanan serta asuransi, mengingat rasio nilai terhadap beratnya sangat tinggi.
Salah satu sumber menyebutkan sebagian besar maskapai telah membatalkan penerbangan sehingga pengiriman emas kemungkinan terhenti sementara.
“Sepertinya hampir semua maskapai membatalkan penerbangan, sehingga kemungkinan tidak ada pergerakan emas selama beberapa hari,” ujar sumber tersebut.
Besarnya dampak terhadap pasokan global akan sangat bergantung pada lamanya gangguan transportasi ini berlangsung. Para sumber enggan disebutkan namanya karena tidak memiliki kewenangan berbicara kepada media.
Sementara itu, harga emas spot pada penutupan perdagangan Jumat naik sekitar 1,7% menjadi US$ 5.277 per troy ounce, level tertinggi sejak 30 Januari. Sejumlah analis memperkirakan arus dana ke aset safe haven seperti emas berpotensi meningkat saat pasar kembali dibuka.
Rekor harga emas sebelumnya tercatat di level US$ 5.594,82 per troy ounce pada 29 Januari.
Sumber lain di industri logam mulia menilai perdagangan pada awal pekan akan lebih dipengaruhi oleh arus transaksi finansial di pasar utama dunia seperti Shanghai, London, dan New York.
“Pusat perdagangan utama seperti China, India, New York, London, dan Zurich masih beroperasi normal,” ujar seorang trader logam mulia.
