Tertekan Isu AI dan The Fed, IHSG Parkir di Zona Merah

Ilustrasi IHSG (Beritasatu.com/David Gita Roza)
Jakarta, Beritasatu.com – Indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali bergerak di zona merah pada perdagangan Senin (29/6/2026) di tengah meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap berbagai sentimen global dan domestik.
Tekanan datang dari kekhawatiran terhadap prospek investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Amerika Serikat, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), hingga sikap wait and see investor menjelang rilis sejumlah data ekonomi Indonesia.
BACA JUGA
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (Ipot) Brigita Kinari mengatakan pelemahan IHSG tidak terlepas dari meningkatnya volatilitas pasar saham global sepanjang pekan lalu.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur AI setelah muncul laporan penundaan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) OpenAI akibat tingginya volatilitas pasar. Kondisi tersebut memicu aksi jual pada saham-saham teknologi global, terutama sektor semikonduktor.
“Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran melambatnya belanja infrastruktur AI menyusul laporan penundaan IPO OpenAI akibat volatilitas pasar yang langsung menyeret jatuh saham-saham cip utama seperti Micron, AMD, dan Intel, serta memicu aksi jual masif di bursa Asia dan Eropa termasuk koreksi harga komoditas logam,” ujar Brigita dalam risetnya, Senin (29/6/2026).
Ia menjelaskan, tekanan pada sektor teknologi membuat Nasdaq Composite terkoreksi sekitar 4,6% sepanjang periode 22-26 Juni 2026 setelah mencatat pelemahan selama lima hari perdagangan berturut-turut. Sementara itu, S&P 500 turun hampir 2%.
Pada sisi lain, Dow Jones Industrial Average justru menguat sekitar 0,6% karena investor melakukan rotasi portofolio ke saham-saham defensif, seperti sektor kesehatan, barang konsumsi primer, jasa keuangan, dan utilitas.
Menurut Brigita, pasar juga masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski data inflasi dan kepercayaan konsumen menunjukkan perbaikan, pernyataan Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari mengenai peluang kenaikan suku bunga apabila konflik di Timur Tengah kembali memicu inflasi membuat investor tetap berhati-hati.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga memilih menunggu sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada akhir Juni hingga awal Juli 2026.
Perhatian investor tertuju pada data inflasi, neraca perdagangan, indeks kepercayaan konsumen, hingga arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada pertengahan Juli.
Brigita menilai paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun yang telah diluncurkan pemerintah melalui delapan program insentif menjadi sentimen positif bagi pasar.
Selain itu, langkah konsolidasi fiskal melalui efisiensi anggaran, penyesuaian alokasi program makan bergizi gratis (MBG), penghematan subsidi energi, serta berbagai reformasi kebijakan juga berpotensi memperbaiki persepsi investor.
Namun, menurutnya pasar masih menunggu efektivitas implementasi berbagai kebijakan tersebut.
BACA JUGA
“Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit, sehingga arah arus modal asing diperkirakan tetap menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan pasar domestik,” jelas Brigita.
IHSG Masih Berada dalam Tren Turun
Dari sisi teknikal, Ipot memperkirakan IHSG masih berada dalam tren penurunan (downtrend) jangka menengah meski sempat mengalami rebound dari posisi terendah sebelumnya.
