Industri Alas Kaki Tumbuh, Asosiasi Yakin Serap Lebih Banyak Pekerja

Ilustrasi industri alas kaki. (Antara)
Jakarta, Beritasatu.com – Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) optimistis industri alas kaki nasional akan terus memperluas penyerapan tenaga kerja pada semester II 2026 seiring pertumbuhan kelompok industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki yang mencapai 11,30% secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II 2026.
Berdasarkan data produk domestik bruto (PDB), capaian tersebut meningkat tajam dibandingkan pertumbuhan 5,28% pada triwulan I 2026. Angka itu juga melampaui pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,32% maupun pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29%.
Sekretaris Jenderal Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda menilai pertumbuhan dua digit tersebut menunjukkan daya saing industri alas kaki Indonesia masih kuat meski dihadapkan pada ketidakpastian perdagangan global dan tekanan daya beli masyarakat.
BACA JUGA
“Pertumbuhan dua digit ini menunjukkan bahwa industri alas kaki nasional bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang di tengah ketidakpastian perdagangan global. Ini menjadi modal penting untuk membangun optimisme pelaku usaha, menjaga keberlanjutan investasi, dan memperluas penyerapan tenaga kerja,” ujar Billie dalam keterangannya, Kamis (6/8/2026).
ADVERTISEMENT
Dari sisi ketenagakerjaan, industri kulit dan alas kaki telah menyerap sekitar 966.147 pekerja hingga Februari 2026. Jumlah tersebut meningkat 45.061 orang atau sekitar 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sebanyak 845.511 pekerja atau sekitar 87,5% merupakan tenaga kerja formal, sedangkan 120.636 orang bekerja di sektor informal. Industri ini juga menyumbang sekitar 4,82% terhadap total tenaga kerja di sektor industri pengolahan nonmigas.
Menurut Billie, dominasi pekerja formal menunjukkan industri alas kaki tetap menjadi salah satu sektor padat karya yang berkontribusi besar terhadap perekonomian masyarakat.
“Setiap peningkatan pesanan dan kapasitas produksi akan berpengaruh pada penyerapan tenaga kerja, pendapatan rumah tangga, serta aktivitas ekonomi di wilayah industri,” katanya.
Kinerja positif juga terlihat dari pasar ekspor. Sepanjang 2025, nilai ekspor alas kaki Indonesia mencapai sekitar US$ 7,98 miliar, naik 9,54% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan volume ekspor sekitar 601 juta pasang.
Pada periode Januari-Maret 2026, komoditas alas kaki turut menjadi salah satu penyumbang utama surplus perdagangan nonmigas Indonesia dengan Amerika Serikat sebesar US$ 1,49 miliar.
Sementara itu, realisasi investasi pada industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencapai Rp 25,83 triliun sepanjang 2025, melonjak hampir 70% dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp 15,20 triliun. Hingga triwulan I 2026, investasi di sektor tersebut telah mencapai Rp 5,83 triliun.
Aprisindo menilai momentum ini perlu dijaga melalui peningkatan daya saing industri, termasuk memastikan ketersediaan bahan baku, meningkatkan efisiensi logistik dan energi, mempercepat modernisasi mesin, memperluas akses pembiayaan, serta memperketat pengawasan terhadap produk impor ilegal dan peredaran sepatu tiruan.
BACA JUGA
Selain itu, asosiasi mendorong pemerintah memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA), guna memperluas pasar ekspor. Aprisindo juga berharap tarif ekspor ke Amerika Serikat dapat lebih kompetitif dibandingkan negara pesaing.
“Kami yakin semester II 2026 dapat menjadi periode konsolidasi sekaligus ekspansi. Dengan kebijakan yang mendukung daya saing dan komitmen industri meningkatkan produktivitas, industri alas kaki akan terus menjadi salah satu sektor unggulan yang mampu meningkatkan ekspor, menarik investasi, memperluas kesempatan kerja, dan memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tutup Billie.
