Analisis Minyak Turun Jelang Sanksi Baru AS ke Iran - Data Pasar 2026-08-24

Minyak Turun Jelang Sanksi Baru AS ke Iran

Read Time:3 Minute, 54 Second

Analisis Minyak Turun Jelang Sanksi Baru AS ke Iran - Data Pasar 2026-08-24Harga Emas melanjutkan Penguatan pada perdagangan Asia, Senin (28/6), dan menembus level US$4.650 per troy ounce. Kenaikan ini membawa XAU/USD ke level tertinggi baru sejak pertengahan Mei, didukung pelemahan Dolar AS dan turunnya imbal hasil Obligasi Treasury.

Penguatan Emas terjadi setelah harga berhasil menembus area teknikal penting, yakni 200-day Simple Moving Average pada pekan lalu. Momentum breakout tersebut memperkuat minat beli, terutama saat Dolar AS masih berada dekat level terendah lebih dari tiga bulan.

Tekanan terhadap Dolar AS datang dari meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga BI The Fed dalam waktu dekat. Data inflasi AS bulan Juli yang lebih jinak membuat Pasar semakin memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan FOMC 15–16 September.

Dukungan tambahan bagi Emas datang dari langkah Departemen Keuangan AS yang berencana meningkatkan pembelian kembali Obligasi Pemerintah tenor panjang mulai September. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menyatakan ukuran buyback dapat diperbesar lebih dari US$4 miliar per penerbitan, sehingga membantu menahan yield Treasury dari level tinggi multi-tahun.

Meski demikian, Pasar masih memperhitungkan peluang lebih dari 70% bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga setidaknya satu kali hingga akhir tahun. Risiko inflasi dari harga Minyak yang volatil membuat investor tetap menunggu rilis indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE AS pada Rabu, serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole.

Dari sisi geopolitik, ketegangan AS-Iran masih menjadi faktor penting bagi Pasar. Scott Bessent dijadwalkan mengumumkan sanksi yang disebut sebagai sanksi paling keras dalam sejarah terhadap Iran pada Senin waktu AS, sementara Teheran memperingatkan akan menghentikan ekspor Minyak melalui Selat Hormuz dan Teluk Persia jika perang ekonomi terus berlanjut.

Peringatan dari pejabat keamanan Iran Mohsen Rezaei bahwa keterlibatan negara lain dalam sanksi AS dapat dianggap sebagai tindakan perang membuat premi risiko tetap tinggi. Kondisi ini berpotensi membatasi pelemahan Dolar AS sebagai aset safe haven, sekaligus menahan ruang kenaikan Emas agar tidak terlalu agresif.

Analisis Newsmaker: Emas masih berada dalam tren positif setelah berhasil menembus level teknikal penting dan bertahan di atas US$4.650. Selama Dolar AS dan yield Treasury tetap lemah, XAU/USD berpeluang melanjutkan Penguatan menuju area US$4.700. Namun, kenaikan Emas perlu tetap diwaspadai karena risiko geopolitik Hormuz dapat menopang Dolar AS, sementara data PCE dan pidato Kevin Warsh berpotensi mengubah ekspektasi Pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Jika sinyal The Fed kembali hawkish, aksi profit taking pada Emas bisa muncul setelah reli tajam.  (asd)*Sumber: Newsmaker.id

Franc Swiss Menguat, Dolar AS Tertekan Kebijakan Buyback Treasury

Yen Menguat, Ekspektasi Kenaikan suku bunga BoJ Tekan USD/JPY

Hang Seng Anjlok 2,1%, Bursa Efek Teknologi Jadi Beban Utama

Emas Dekat Level Tertinggi Tiga Bulan, Debasement Trade Kembali Jadi Sorotan

Yen Strengthens; Market Tests US Dollar’s Resilience

Gold Nears Three-Month High as “Debasement Trade” Returns to Focus

Nikkei Naik Tipis, Investor Cermati Risiko Perang Dagang AS-Kanada

Trump Pressures Iran; Oil Prices Near Three-Week Highs

Minyak Turun ke US$86, Pasar Tunggu Sanksi Baru AS ke Iran

Emas Dekat Level Tertinggi Tiga Bulan, Debasement Trade Kembali Jadi Sorotan

Gold on Track for Third Weekly Rally; US Moves Act as Key Catalyst

Gold Holds Above US$4,500; Weak Dollar and Treasury Buybacks Fuel Rally

Gold Holds Above $4,500; Profit-Taking and Inflation Risks Cap Gains

Market & Economic IntelligencePlatform Insight On Macro,Commodities, Equities & Policy

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Emas Tembus US$4.650, Yield Rendah dan Dolar Lemah Jadi Penopang
Next post Minyak Turun Jelang Sanksi Baru AS ke Iran