Minyak Turun ke US$86, Pasar Tunggu Sanksi Baru AS ke Iran
Harga Minyak mentah melemah ke sekitar US$86 per barel setelah mencatat reli tajam dalam sepekan terakhir. Penurunan ini terjadi karena investor mulai melakukan aksi ambil untung menjelang pengumuman sanksi baru Amerika Serikat terhadap Iran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan menjatuhkan sanksi paling keras dalam sejarah terhadap Iran. Langkah tersebut disebut sebagai kampanye isolasi ekonomi besar-besaran yang ditujukan untuk menekan Iran dan mitra dagangnya agar mematuhi kebijakan AS.
Kebijakan ini berpotensi memperketat pasokan Minyak global karena pengiriman Minyak Iran sebelumnya sudah terganggu akibat blokade AS. Penawaran Minyak Iran kepada pembeli China juga dilaporkan menurun, seiring meningkatnya tekanan terhadap jalur perdagangan energi negara tersebut.
Namun, Teheran menolak ancaman sanksi baru tersebut. Iran menyebut langkah itu sebagai upaya tekanan yang kembali gagal, sekaligus menegaskan bahwa negara tersebut telah berpengalaman menghadapi blokade ekonomi dan tetap mampu menjaga hubungan dagang dengan negara lain.
Di sisi lain, ketegangan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama Pasar. Lalu lintas kapal melalui jalur Minyak penting tersebut masih berada jauh di bawah level normal, sehingga risiko gangguan pasokan tetap membayangi pergerakan harga Minyak.
Dari sisi dampak market, koreksi Minyak saat ini lebih dipicu oleh aksi profit taking setelah reli tajam, bukan karena risiko fundamental mereda. Selama sanksi AS terhadap Iran semakin keras dan arus kapal di Selat Hormuz belum normal, harga Minyak masih berpeluang bertahan kuat. Namun, jika Pasar menilai sanksi sudah priced in, Brent dan WTI bisa bergerak lebih volatil dalam jangka pendek.
Analisis Newsmaker: Minyak masih berada dalam fase rawan koreksi teknikal setelah kenaikan kuat sepekan terakhir, tetapi faktor fundamental tetap mendukung harga di area atas. Tekanan sanksi terhadap Iran, gangguan ekspor, serta belum normalnya lalu lintas Hormuz membuat risiko pasokan tetap tinggi. Selama WTI mampu bertahan di atas area US$85, peluang rebound masih terbuka, tetapi jika aksi ambil untung berlanjut, harga berpotensi menguji area support berikutnya sebelum kembali menentukan arah. (asd)*
Nikkei Melemah 0,69%, Saham Teknologi dan Transportasi Tertekan
Franc Swiss Menguat, Dolar AS Tertekan Kebijakan Buyback Treasury
Emas Tembus US$4.650, Yield Rendah dan Dolar Lemah Jadi Penopang
Yen Menguat, Ekspektasi Kenaikan suku bunga BoJ Tekan USD/JPY
Hang Seng Anjlok 2,1%, Saham Teknologi Jadi Beban Utama
Yen Strengthens; Market Tests US Dollar’s Resilience
Gold Nears Three-Month High as “Debasement Trade” Returns to Focus
Emas Dekat Level Tertinggi Tiga Bulan, Debasement Trade Kembali Jadi Sorotan
Trump Pressures Iran; Oil Prices Near Three-Week Highs
Gold Nears Three-Month High as “Debasement Trade” Returns to Focus
Market & Economic IntelligencePlatform Insight On Macro,Commodities, Equities & Policy
